Teladan Seorang Dajoen, Pemilik Sekaligus Pendiri Yayasan Pendidikan Al Ma’soem

Dajoen atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Haji Ma’soem, merupakan pria kelahiran Desa Cibuyut, Tasikmalaya. Ia lahir pada tahun 1923, yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara dari anak pasangan H. Soelaeman dan Kasih. Dajoen sempat bersekolah di Sekolah Rakyat, yang pada akhirnya di lanjutkan ke Vervogschool di daerah Ciawi, Tasikmalaya. Dalam perjalanan menuju ke sekolahnya itu, Dajoen harus berjalan kaki dengan jarak sejauh 16 km. Perjalanan jauh tersebut pun tak membuatnya lelah, dimana setelah pulang sekolah Dajoen melanjutkan belajar di Pesantren Gereba.

Sudah sedari dulu, Dajoen kecil memang di didik untuk hidup mandiri. Hal itu pun terbukti, dimana ia memelihara beberapa ekor bebek untuk diambil telurnya, yang kemudian telur tersebut dijual untuk membiayai sekolahnya sendiri. Setelah tamat dari sekolah Vervolgschool, Dajoen pun memutuskan untuk merantau ke daerah Cipacing, Sumedang bersama kakaknya yakni Kyai Nasihin dengan tujuan berdagang. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Dajoen juga sempat menjadi buruh tani lepas.

Memasuki masa penjajahan Jepang, Dajoen kembali pulang ke kampung halamannya untuk menimba ilmu di Pesantren Karangsambung pimpinan K.H. Masduki. Dari sekian banyaknya santri yang ada, Dajoen-lah yang menjadi salah satu santri kesayangan K.H. Masduki. Hal itu juga tidak terlepas dari keteladanan seorang Dajoen, sehingga K.H. Masduki pun memberinya nama Ma’soem yang artinya “Terpelihara dari sifat buruk”. Pada tahun 1944, K.H Masduki pun menikahkan Ma’soem dengan putrinya yang bernama Aisyah.

Memasuki awal kemerdekaan, Dajoen alias Ma’soem memelihara tiga ekor kerbau yang kemudian hasil ternaknya di jula sampai ke daerah bandung. Kendati telah merdeka, namun di tahun 1950 kondisi keamanan di kampung halamannya tidak kondusif. Alhasil, Ma’soem beserta keluarganya mengungsi ke daerah Cipacing dan memutuskan untuk memulai hidup baru. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ma’soem berjualan kerajinan yang dibawa ke daerah Bandung hingga Jakarta. Merasa pendapatannya tidak mencukupi, akhirnya Ma’soem banting stir dengan berjualan minyak tanah pada sepetak kios yang disewanya di daerah Dangdeur, Rancaekek.

Usahanya pun kian berkembang pesat, sehingga ia menggarap bisnis pompa bensin di Rancaekek. Tak lama kemudian, Ma’soem juga memulai bisnis armada angkutan umum dan pabrik tenun. Megingat bisnisnya kian berkembang, Ma’soem dan istrinya Aisyah pergi berhaji ke Tanah Suci pada tahun 1955. Memasuki tahun 1973, berdirilah sebuah perusahaan besar dengan nama PT Ma’soem dan Yayasan Pendidikan Al Ma’soem.



Pada tahun 2019 ini, Yayasan Pendidikan Al Ma’soem telah membuka universitas yang sudah terakreditasi. Terdapat pula 3 sekolah yang diantaranya adalah Sekolah Tinggi Komputer (STKOM), Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP), dan Sekolah Tinggi Ilmu Perbankan Syariah (STIBANKS). Tak hanya itu saja, adapun mengenai jumlah prodi yang bisa dipilih oleh para calon Mahasiswa Baru tahun 2019 yakni adalah Sistem Informasi (S1), Manjemen Informatika (D3), Komputerisasi Akuntansi (D3), Pebankan Syariah (S1), Teknologi Pangan (S1), dan Agribisnis (S1). Adapun mengenai kelebihan saat mendaftar di Yayasan Pendidikan Al Ma’soem seperti di bawah ini :

1. Manfaat daftar di awal, biaya pendidikan yang lebih murah.

2. Pengembalian biaya pendidikan 100 %, apabila siswa/siswi mengundurkan diri.

3. Tidak ada biaya heregistrasi (daftar ulang) & biaya diperjalanan.

4. Beasiswa untuk siswa / santri yang berprestasi.

5. Sepanjang Januari – Juli, Ahad / libur pendaftaran tetap dibuka.

Nah, bagi anda yang ingin mendaftar jurusan bahasa Inggris di Bandung dan jurusan pertanian di Bandung, silahkan saja datang langsung ke alamat Jl. Raya Cipacing No. 22 Jatinangor – Sumedang 45363, atau bisa langsung kunjungi situsnya => masoemuniversity.ac.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.