Belajar Matematika Melalui Permainan Congklak

Kalau disuruh memilih, anak-anak mungkin akan lebih senang bermain dibanding belajar. Hal ini rupanya begitu disadari oleh seorang guru SDN 4 Mekar Delima di Pulau Padang, Kabupaten Meranti, Riau, yang bernama Wan Amrizal. Ia kemudian memanfaatkan permainan tradisional sebagai sarana belajar.

Wan Amrizal memilih menggunakan congklak untuk mengajar matematika kepada anak didiknya. Ia membuat congklak dari batok kelapa dan memakainya untuk belajar perkalian dan pembagian. Buah karyanya terbilang inovatif. Hasilnya, metode belajar matematika dengan memanfaatkan congklak ini terpilih masuk ke dalam enam besar Lomba Inovasi Pembelajaran Wilayah Terpencil yang diikuti oleh wakil dari 32 provinsi di Indonesia pada 2015.

Kemampuan Wan dalam menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan bagi siswa tak lepas dari dukungan Tanoto Foundation. Ia mendapatkan pelatihan yang merupakan bagian dari program Pelita Guru Mandiri dari yayasan filantropi yang didirikan  Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto tersebut.

Kegiatan pelatihan dalam program Pelita Guru Mandiri  merupakan salah satu upaya Tanoto Foundation dalam mendukung sektor pendidikan Indonesia. Tanoto Foundation menyadari bahwa dunia pendidikan negeri kita belum maksimal dalam menghadirkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Lewat kegiatan tersebut, para guru dilatih cara mengajar yang kontekstual dan menyenangkan bagi murid. Tujuannya agar masalah pendidikan dalam hal  proses belajar-mengajar yang membosankan bisa dikurangi.

“Saya mendapat banyak pengetahuan baru dari pelatihan Pelita Guru Mandiri ini. Metode yang mengadaptasi pembelajaran di luar ruang sangat tepat untuk kami terapkan. Hasilnya, siswa jadi lebih aktif dan mudah dalam menyerap pelajaran,” kata Wan.

Tanoto Foundation gencar menggelar program Pelita Guru Mandiri karena menyadari bahwa banyak guru di daerah terpencil yang kesulitan mengajar karena minimnya fasilitas. Untuk itu, mereka melatih guru supaya bisa memanfaatkan segala hal di sekitarnya sebagai sarana belajar seperti Wan.

Hingga Desember 2015, sudah ada 2.200 guru dan kepala sekolah yang dilatih dalam Pelita Guru Mandiri. Selain itu, 230 orang guru sudah mampu menjadi peer educator. Tanoto Foundation juga memberi beasiswa kepada 151 guru dan bermitra dengan 215 sekolah.

Secara khusus, Tanoto Foundation ingin membuat dunia pendidikan di kawasan pedesaan menjadi lebih bermutu. Harus diakui, salah satu masalah pendidikan Indonesia yang besar adalah ketimpangan kualitas antara sekolah di perkotaan dan desa. Padahal, semangat belajar para siswa di daerah tak kalah besar dibanding yang ada di kota.

Wan mencontohkan orang-orang di daerahnya. Mereka bersemangat sekali untuk bersekolah. Untuk itu, usai mengajar di sekolah, Wan rela meluangkan waktu menjadi tenaga pengajar Paket A, B, dan C di lembaga pendidikan yang didirikannya.

Semangat belajar yang tinggi seperti itu perlu dipupuk. Sebab, pendidikan sangat berarti penting bagi masa depan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Tanoto Foundation berkomitmen meningkatkan mutu dunia pendidikan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *