Tour de France, Olah Raga Balap Sepeda Gila-gilaan dan Paling Akbar

Bagi pesepeda, khususnya penggemar road bike, Tour de France mungkin sudah tidak asing di telinga. Begitu juga masyarakat awam. Ketika mendengar balap sepeda di Prancis, yang terlintas di benak mungkin balapan akbar Tour de France.

Adu cepat sepeda balap itu kembali digelar 2-24 Juli 2016 lalu. Kesuksesan Tour de France dari tahun ke tahun tentu tak lepas dari peran sang pionir, yakni Henry Desgrange, reporter, penulis, dan direktur program velodrome Paris, bersama Georges Lafevre, reporter olah raga yang merupakan rekan kerja Desgrange.

Desgrange yang sangat menyukai sepeda ingin menggelar sesuatu yang sensasional untuk mendongkrak pamor majalah L’Auto-Velo. Desgrange khawatir popularitas majalah tempat ia bekerja luntur dan kehilangan pembaca setelah pengadilan memutuskan untuk mengganti nama majalahnya menjadi L’Auto.

Baca juga : Cara Memilih Olahraga Sesuai Kepribadian

Georges Lefevre pun mendesak Desgrange untuk menggelar balap sepeda gila-gilaan yang belum pernah ada di Prancis. Desgrange pun bergerak. Ia mulai mencari dana dengan membujuk Direktur Keuangan L’Auto. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi, Desgrange mempublikasikan ide gilanya. Balapan sepeda yang belum pernah ada di dunia, menempuh jarak lebih dari 2.000 kilometer. Balapan itu digelar sebulan penuh dan akan dibagi menjadi enam etape. Yang lebih mengejutkan, balapan itu digelar siang malam melewati kota-kota utama di Prancis.

Sebenarnya, balapan sepeda berhari-hari di Prancis sudah ada sebelum ide gila Desgrange lahir. Ada balapan Bordeaux-Paris atau Paris-Brest-Paris yang ditempuh siang malam. Ada pula balapan Tour de France pertama yang menggunakan mobil.

Dewi Fortuna belum memihak pada Desgrange. Ide balapan edan-edanan itu kurang disambut. Ketika balapan di depan mata, hanya l pembalap yang mendaftar. Ia pun mengundurkan jadwal balapan dan mengiming-imingi hadiah yang lebih besar, yaitu 20.000 franc. Ia juga akan memberikan uang saku per hari sebesar 5 franc selama balapan.

Usaha Desgrange pun berbuah manis. Tour de France pertama yang digelar pada 1903 diikuti 60 peserta. Mereka bukanlah pembalap profesional seperti sekarang. Sebagian adalah pembalap bersponsor dan sebagian lagi pesepeda biasa, petualang, dan orang miskin yang mencoba peruntungan.

Baca juga : Pemain Machester United yang Gagal Bersinar Karena Salah Posisi

Tour de France pertama sukses digelar. Ketika juara Tour de France pertama Maurice Garin menyentuh garis finis, masyarakat pun menyambutaya dengan meriah. Kerja keras Desgrange dan Lafevre tidak sia-sia. Mereka mencetak 130.000 eksemplar yang memuat edisi khusus Tour de France. Semua terjual tanpa sisa. Pamor Majalah L’Auto kembali naik.

Tahun ke tahun, Tour de France digeslar lebih bewarna. Panitia menambahkan atraksi seperti sirkus sebagai magnet yang bisa menyedot penonton. Para pembalap sering unjuk kebolehan dengan mengayuh sepeda pakai tangan dan berdiri di atas sadel. Sekarang, berbagai sirkus dan atraksi sudah tak ada lagi. Sudah tergantikan oleh efisiensi, kecepatan, dan teknologi.

Tour de France bisa dibilang olah raga klasik yang digelar jauh sebelum Piala Dunia pertama. Balapan klasik itu juga menjadi pemicu lahirnya balapan one day race atau tur bergengsi seperti Amstel Gold, Paris Roubaix, Tour de Espana, Giro d’Italia, dan Tour de Suisse.

Dunia berubah sedemikian cepatnya. Tour de France yang digelar setiap tahun selalu berbeda, lebih berwarna seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Sekarang, jutaan pasang mata bisa menyaksikan balap sepeda akbar yang selalu digelar pada Juli-Agustus, ketika musim panas dan liburan tiba.

Kita memang menyukai teknologi, tapi jangan sesekali melupakan sejarah. Karena tanpa kegilaan Desgrange dan Lafevre, Tour de France tak akan pernah lahir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *