3 Hal Ini Bisa Memperlambat Datangnya Andropause Pada Diri Anda

Mendengar istilah andropause, sebagian lelaki mungkin akan mengernyitkan dahi. Betapa tidak, proses “menopause” pada lelaki ini telah menjadi momok yang cukup menakutkan. Saat menghinggapi seseorang, kebingungan pun melanda. Sisi kekuatan lelaki diserang.

Menopause pada lelaki sering kali dikenal dengan sebutan andropause. Jika selama ini gangguan ini disebutkan hanya dialami oleh pria lanjut usia atau berusia di atas 50 tahun, kecenderungan yang terjadi beberapa tahun belakangan justru sebaliknya. Pria berusia 40 tahunan atau bahkan 30 tahunan, ternyata juga tak lepas dari ancaman andropause.

Andropause berasal dari kata andro (yang artinya kejantanan), dan pause (istirahat). Dalam bahasa sehari-hari, andropause diartikan sebagai perubahan akibat proses penuaan pada sistem reproduksi pria. Termasuk di dalamnya perubahan pada jaringan testis, produksi sperma, dan fungsi ereksi.

Ada juga yang memberi istilah andropause sebagai klimakterium laki-laki. Artinya, seorang laki-laki sedang berada pada tingkat kritis fase kehidupannya, ketika terjadi perubahan fisik, hormon, dan psikis, serta penurunan aktivitas seksual. Tak heran, banyak yang menyamakan proses ini dengan menopause pada wanita.

Bedanya, pada wanita yang mengalami menopause, ovulasi berakhir dan produksi hormon merosot selama waktu yang relatif singkat. Pada pria, produksi hormon dan penurunan testosteron terjadi selama bertahun-tahun, dengan konsekuensi yang tidak selalu jelas.

Meskipun demikian, penyebab utama terjadinya andropause sama seperti menopause, yaitu perubahan hormon yang akhirnya akan berdampak pada beberapa hal. Hal itu mengakibatkan terjadinya perubahan pada kesuburan dan hormon seksual.

Gangguan ini paling banyak menghinggapi pria berusia di atas 50 tahun. Namun, banyak pula pria berusia 40 tahunan yang mulai mengalami sindrom andropause. Dengan gaya hidup buruk dan faktor lingkungan sekitar, sindrom ini juga bisa menyerang pria berusia lebih muda, seperti usia tiga puluhan tahun. Implikasinya tentu saja berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, mulai dari terganggunya hubungan seksual dengan pasangannya, hingga penurunan produktivitas kerja.

Ketika memasuki fase andropause, beberapa lelaki juga akan mengalami kenaikan berat badan. Hal itu disebabkan karena otot mulai melemah, lalu kehilangan massa otot. Dalam beberapa kasus, tubuh juga merasa malas dan menjadi tidak aktif.

Selain itu, perubahan emosi atau mood juga menjadi gejala karena hormon di dalam tubuh mengalami fluktuasi. Mudah marah atau sensitif adalah salah satu gejala yang umum dialami. Akan tetapi, perubahan suasana hati ini bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Tanda seksual sekunder seperti pertumbuhan janggut dan kumis yang melambat, juga bisa dikenali sebagai salah satu gejala andropause. Beberapa keluhan lain, misalnya berkeringat berlebihan saat tidur, sulit berkonsentrasi, mudah pelupa, dan insomnia. Jika ada keluhan-keluhan seperti itu, yang tentu saja disertai dengan penurunan gairah seksual, sebaiknya langsung periksakan diri ke dokter untuk berkonsultasi dan evaluiasi.

Biasanya, terapi yang diberikan pada penderita andropause berupa Testoterone Replacement Therapy (RPT), yang dilakukan baik secara injeksi maupun oral. Untuk membentengi diri dari gangguan ini pada usia yang relatif muda, dianjurkan untuk mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok, konsumsi makanan sehat, dan olah raga secara teratur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *