Tips Agar Anak Tak Takut Ke Dokter

Setiap orang tua tentu berharap agar anaknya senantiasa dalam keadaan sehat. Tapi pada kenyataannya selalu saja ada saat si buah hati jatuh sakit. Terdorong oleh rasa cemas dan khawatir yang begitu besar, orang tua segera berusaha membawa anaknya untuk berobat. Namun, kadang kala kegundahan orang tua justru semakin bertambah karena anak menolak dibawa ke dokter.

Beberapa anak mungkin dapat menjalin komunikasi yang baik dengan dokternya, ia bisa bercerita tentang apa yang dirasakannya dan mau mengikuti setiap instruksi dokter. Munculnya dua reaksi yang bertolak belakang ini dipengaruhi oleh image anak tentang dokter dan apa yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya.

Adanya rasa takut pada anak adalah suatu hal yang wajar. Rasa takut pada anak biasanya masih terbatas pada hal-hal yang spesifik, misalnya takut pada gelap, takut pada binatang tertentu, takut pada orang yang tak dikenalnya, dan lain sebagainya.

Baca juga : 4 Cara Mencegah Janin Sungsang

Tanpa disadari, orang tua justru sering memanfaatkan dan menyalahgunakan rasa takut anak agar mau menuruti keinginannya. Sering kita dengar orang tua menakut-nakuti anaknya dengan ucapan, “Kalau makannya enggak habis, nanti Mama bilangin Pak Dokter, biar kamu disuntik aja.”

Contoh ucapan itu sudah cukup untuk menjadikan dokter sebagai sosok yang paling menakutkan bagi anak-anak. Akibatnya, saat anak memang benar-benar perlu dibawa ke dokter, yang muncul adalah perasaan takut dan terancam.

Banyak ahli menyarankan agar anak diajak bermain peran (role play) sebagai upaya mengatasi berbagai bentuk rasa takutnya, termasuk rasa takut untuk berobat ke dokter. Dalam bermain peran anak memerankan sosok yang ditakutinya, dalam hal ini anak berperan sebagai dokter. Manfaatkan boneka kesayangannya atau salah satu anggota keluarga (orang tua/kakak/adik) sebagai pasien. Jika memungkinkan, lengkapi anak dengan seperangkat mainan dokter-dokteran. Biarkan anak berimajinasi dan berlaku seolah-olah dirinya adalah dokter yang sedang memeriksa pasien.

Permainan semacam ini merupakan cara terbaik untuk meluruskan image anak tentang sosok dokter dan bagaimana cara dokter menangani pasiennya. Dengan menghayati perannya, anak pun akan belajar untuk berempati pada orang lain.

Selain bermain peran, hal lain yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah mengajak anak membaca cerita bergambar yang mengisahkan tentang seorang anak yang berobat ke dokter. Bermain peran dan memberikan wawasan melalui bacaan memang bukan metode instan, namun merupakan proses cukup panjang dan menuntut keterlibatan orang tua secara penuh.

Baca juga : Tips Memilih Dokter Alergi Anak yang Paling Tepat

Dengan bahasa yang ringkas dan mudah dimengerti, jelaskan bagaimana kira-kira dokter akan melakukan pemeriksaannya. Terangkan pada anak bahwa dokter terlebih dahulu akan mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab olehnya. Kemudian dokter akan memintanya untuk duduk atau berbaring di ranjang periksa sambil mendengarkan suara napas dan detak jantung dengan menggunakan alat stetoskop.

Saat dialog tekankan pada anak tentang keuntungan yang didapat setelah pemeriksaan atau tindakan selesai dilakukan. Yakinkan anak bahwa rasa takut adalah suatu hal yang wajar. Berikan pengertian bahwa pemeriksaan maupun tindakan yang dilakukan oleh dokter tidak akan menyebabkan gangguan pada tubuh, semua denri kesembuhannya semata.

Jangan bohongi anak, katakan nyeri jika memang suatu tindakan akan menimbulkan rasa nyeri (misalnya disuntik). Namun jangan berlama-lama membahas tentang rasa nyeri. Lebih baik Anda memberikan tips yang dapat membantu anak mengalihkan perhatiannya dari nyeri tersebut.

Selama anak menjalani pemeriksaan atau tindakan oleh dokter, yang paling dibutuhkannya adalah rasa aman dan perhatian dari orang tua. Sentuhan dan belaian orang tua sangat berarti bagi anak, karena itu dampingilah anak.

Tentunya masih banyak trik lain yang dapat terpikirkan oleh orang tua sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing anak. Membantu anak berjuang mengatasi rasa takutnya pada dokter memang perlu untuk dilakukan, tapi tentu saja lebih penting lagi menjaga anak agar tetap sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *