Cara Menyikapi Tuntutan Kemandirian Anak

Setiap anak awalnya tidak berdaya dan kurang percaya diri untuk melakukan aktivitas baru dan berada di lingkungan yang baru dikenalinya. Anak masih tergantung pada orangtua dan orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring perkembangan, anak secara bertahap melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain dan belajar untuk mandiri dan percaya diri.

Baca Juga : Tempat Camping di Puncak Bogor

Kemandirian dan rasa percaya diri anak dalam konteks umum merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Sedangkan kemandirian dan rasa percaya diri anak dalam konteks individu, memiliki aspek yang lebih luas dari sekadar aspek fisik, tetapi mencakup juga aspek sosial, emosi, bahasa-komunikasi, etika-moral dan mental-kognitif.

Peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian dan rasa percaya diri anak. Orangtua diharapkan tidak terlalu memanjakan dan melindungi anaknya dan dapat memberikan kesempatan pada anak supaya dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Orangtua, dalam menentukan target kemandirian yang dicapai anak sebaiknya tidak menggunakan standar kemandirian anak lain atau kita sebagai orang dewasa. Mulailah membangun kemandirian anak dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengerjakan tugas dan pekerjaan rutinnya, bertanggung jawab terhadap yang dilakukannya sehari-hari di rumah atau di sekolah, memberi kesempatan pada anak mampu mengambil keputusan dan inisiatif dalam menghadapi masalah, serta tumbuh keinginan bersaing untuk maju dan berbeda dari teman sebaya.

Untuk dapat mandiri sekaligus percaya diri anak membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, supaya dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Peran orangtua dan respons dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai “pemicu’ untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Selain itu, orangtua senantiasa memberi penghargaan atas keberhasilan yang telah dicapai anak meskipun itu keberhasilan yang sederhana dan tidak spektakuler.

Kemandirian dan rasa percaya diri seperti halnya kondisi psikologis yang lain, bisa berkembang dengan baik bila di berikan kesempatan untuk berkembang lewat latihan-latihan yang di lakukan secara berkesinambungan sejak awal. Latihan itu dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Sebaiknya kemandirian dan rasa percaya diri diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai dengan kemampuannya.

Ketika anak menginjak usia remaja, orangtua memberikan kebebasan pada anak tersebut untuk memutuskan sendiri, misalnya, jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika keluar malam bersama temannya. Tentu saja masih perlu pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif.

Artikel Populer : Tempat Outbound di Puncak Bogor

Bagaimana orangtua bertindak, berikut ini beberapa saran:

  1. Berkomunikasi dengan anak merupakan cara paling efektif. Komunikasi harus bersifat dua arah, kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Komunikasi tidak berarti harus formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.
  2. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang diambilnya.
  3. Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian dan rasa percaya diri.
  4. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada anak sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi anak untuk dapat mengembangkan kemandirian dan rasa percaya diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *